Dan apakah belum jelas bagi
orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah lenyap penduduknya, bahwa
kalau Allah menghendaki tentu Allah azab mereka karena dosa-dosanya; dan Allah
kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar pelajaran lagi?
Dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan
membawa bukti-bukti yang nyata, tetapi mereka juga tidak beriman kepada apa
yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata
hati orang-orang kafir.
Negeri-negeri yang telah Allah binasakan itu, Allah ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepada nabi Muhammad saw. Salah satu berita itu adalah kisah nabi
Syu’aib a. s. dengan kaumnya Mad-yan, yang difirmankanAllah kepada nabi
Muhammad saw lewat malaikat Jibril as. Mad-yan adalah nama putera Nabi Ibrahim
a.s. kemudian menjadi nama kabilah yang terdiri dari anak cucu Mad-yan itu.
Kabilah ini diam di suatu tempat yang juga dinamai Mad-yan yang terletak di
pantai laut merah di tenggara gunung Sinai. Masyarakat Mad-yan kafir.
Karena itu Allah telah mengutus nabi Syu'aib a. s. kepada penduduk Mad-yan. Nabi Syu'aib a. s
berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata adanya Tuhanmu.
Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi
manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih
baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. Dan janganlah kamu
menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan
menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu
dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. dan
perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada
segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk
menyampaikannya dan ada segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga
Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah hakim yang
sebaik-baiknya”.
Pemuka-pemuka dan kaum Syu'aib yang
menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai
Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu
kembali kepada agama kami".
Berkata Syu'aib: "Dan apakah kamu akan
mengusir kami, kendatipun kami tidak menyukainya? Sungguh kami mengada-adakan
kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah
Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya,
kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendakinya. Pengetahuan Tuhan kami meliputi
segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah
keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak adil dan Engkaulah pemberi
keputusan yang sebaik-baiknya.”
Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang
kafir berkata kepada sesamanya: "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib,
tentu kamu akan menjad orang-orang yang merugi".
Maka Syu'aib meninggalkan mereka
seraya berkata: "Hai kaumku. Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu
amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana
aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?"
Allah tidaklah mengutus seseorang
nabipun kepada sesuatu negeri, lalu penduduknya mendustakan Nabi itu, melainkan
Allah timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka
tunduk dengan merendahkan diri.
Demikian pula dengan penduduk
Mad-yan. Kemudian mereka, yaitu orang-orang yang mendustakan Syu'aib ditimpa
gempa. Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah
mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang
mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi.
Kemudian setelah itu, Allah ganti
kesusahan mereka itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka
bertambah banyak, dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun
telah merasai penderitaan dan kesenangan". Mereka jadi kafir lagi. Maka Allah
timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak
menyadarinya.
Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Allah akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Allah
itu. Maka Allah siksa mereka disebabkan perbuatannya. Tetapi penduduk Mad-yan
kafir dan lalai.
Maka apakah penduduk negeri-negeri
itu merasa aman dari kedatangan siksaan Allah kepada mereka di malam hari di
waktu mereka sedang tidur? Atau di waktu matahari sepenggalah naik ketika
mereka sedang bermain?
Maka apakah mereka merasa aman dari
azab Allah yang tidak terduga-duga itu? Tiada yang merasa aman dari azab Allah,
kecuali orang-orang yang merugi.
Kepada
kelompok penduduk Mad-yan yang lain, Syu'aib mengulangi pesannya: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu
kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang
baik dan mampu. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang
membinasakan. Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan
janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu
membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa dari Allah adalah
lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. dan aku bukanlah seorang
penjaga atas dirimu".
Mereka
berkata: "Hai Syu'aib, apakah tuhanmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan
apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami
kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat
Penyantun lagi berakal."
Syu'aib
berkata lagi: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti
yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik. Patutkah
aku menyalahi perintah-Nya? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu dengan
mengerjakan apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan
perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku
melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan
hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan
antara aku dengan kamu menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab
seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth
tidak pula jauh tempatnya dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian
bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha
Pengasih.”
Mereka
berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu
katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah
di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah Kami telah merajam
kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami."
Syu'aib
menjawab: "Hai kaumku, Apakah keluargaku lebih terhormat menurut
pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di
belakangmu?. Sesungguhnya pengetahuan Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan. Hai
kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat begitu pula. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan
siapa yang berdusta dan tunggulah azab Tuhan, Sesungguhnya akupun menunggu
bersama kamu."
Syu'aib
mengulang perkataannya kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya
aku adalah seorang Rasul kepercayaan yang diutus kepadamu. Maka bertakwalah
kepada Allah dan 'taatlah kepadaku; Dan aku sekali-kali tidak minta upah
kepadamu atas ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Sempurnakanlah
takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; Dan timbanglah
dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada
hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.
Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang
dahulu".
Mereka
berkata: "Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang
kena sihir. Dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya
kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. Maka
jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang
benar.”
Syu'aib
berkata: "Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan dan apa yang
akan dilakukanNya kepada kalian. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian
bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha
Pengasih."
Dan
tatkala datang azab Allah, Ia selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman
bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Allah, dan orang-orang yang zalim
dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati
bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat
itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah
binasa. Mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan
jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.
Mereka ditimpa 'azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu
adalah 'azab yang besar.
Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah, tetapi
kebanyakan mereka tidak beriman. Sesungguhnya Tuhan itu benar-benar Dialah yang
Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar