Senin, 20 April 2015

Kisah mistis 2

Burung hoopoe dan Burung Hantu.

  Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di
lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang
mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat
Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya,
sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta.
Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung
hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang
segala macam hal. Pada waktu fajar, ketika burung hoopoe
berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu
berkata, 'Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa yang akan
kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?'

'Ini mengherankan,' kata si hoopoe, 'Semua pekerjaan
berlangsung pada siang hari.'

'Apakah kamu gila?' burung-burung hantu itu bertanya. 'Pada
siang hari, dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari
atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?'

'Justru sebaliknya,' kata si hoopoe, 'Semua cahaya di dunia
ini tergantung pada cahaya matahari, dan darinyalah segala
sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya.
Sesungguhnya ia dinamakan "mata dari hari," sebab ia
merupakan sumber cahaya.'

Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat mengalahkan
logika si hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun
dapat melihat pada siang hari.

'Janganlah beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri
kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang
lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat
melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat
diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat
mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan
menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.'

Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi
ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar satu sama
lainnya, mereka berkata, 'Burung ini berbicara tentang
kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang
kebutaan.' Dengan segera mereka menyerang si hoopoe dan
melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya
dengan memanggilnya 'si melek-siang-hari;' sebab kebutaan
pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka.
'Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,' mereka
berkata, 'kamu akan dibunuh!'

'Jika aku tidak membuat diriku buta,' pikir si hoopoe,
'mereka akan membunuhku. Karena mereka merasakan kesakitan
terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan
terjadi secara serentak.' Dan kemudian, diilhami oleh
pepatah, 'Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan
tingkat kecerdasan mereka,' dia menutup matanya dan berkata,
'Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.'

Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul
dan melukai si burung hoopoe, yang menyadari bahwa
mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak
percaya sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran
mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara
susah payah dia bertahan dengan berpura-pura buta dan
berkata:

Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan
menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana
ini.

Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya
hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah
mengunci] bibirku dengan seribu paku.

Dia mengeluh dalam-dalam dan berkata, 'Dalam diriku ada
banyak pengetahuan; jika aku melepaskannya, aku akan
terbunuh.'

Jika selubung itu diangkat, aku tidak akan
menjadi lebih yakin (catatan: perkataan ini
diyakini berasal dari 'Ali ibn Abi Thalib).

Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan
segala yang terpendam di langit dan di bumi
serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan
dinyatakan. (QS 27:25)

Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak
dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak
mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan
kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )

Bunglon dan Kelelawar

Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa
ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka
sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah
melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat
petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk
lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan
bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka
akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah
menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan
melampiaskan dendam. Ketika saat yang dinantikan tiba,
mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama
menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam
sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.

Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya
bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia
harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana
cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Akhirnya
mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan
adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri
tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain
berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi
dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia
memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak
mengharapkan yang lebih baik lagi. 'Penghukuman' semacam itu
persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan
oleh Husayn Manshur,

Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan
terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada
dalam kematianku, dan kematianku ada dalam
hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat
dalam Al-Hallaj, 14.1)

Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari
rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya
matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan
keselamatan baginya.

Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur
dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak!
Bahkan mereka hidup. Mereka mendapat rizki dan
Tuhannya. (QS 3:169)

Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati
tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka
telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya
kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani
berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka
telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka
pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia
'Aththar, Tadzkirah, hal. 282)
Diposkan oleh Partner Solo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar