Memuliakan wanita adalah pekerjaan yang tidak mudah, tapi juga tidak sulit. Tidak mudah karena ianya memerlukan kebijaksanaan dalam tataran praktik nyatanya, namun ia terselimuti bayang-bayang egoisme dan gengsi kelelakian. Dan tidak sulit karena ia adalah bagian kehidupan, yang dalam menjalaninya banyak contoh teladan yang bisa dijadikan panutan. Hanya saja ianya terganjal oleh riak-riak kecil ketidakmengertian.
Singkatnya, memuliakan wanita adalah sebuah kemuliaan, yang kelak juga menghasilkan kemuliaan sekaligus pemuliaan bagi pelakunya. Kemuliaan dan pemuliaan yang tiada dua dan bandingannya. Seperti baris-baris sabda Nabi berikut.
“Janganlah kalian,” jelas ‘Aisyah dan ‘Uqbah bin ‘Amir memperdengarkan dalam riwayat Ahmad, “Membenci wanita. Sebab ia adalah teman duduk yang menyejukkan hati dan sangat berharga kehadirannya.”
“Sesiapa yang,” tulis Albani dalam Silsilah Shahihah-nya ketika menyimpul ulang hadis Nabi dalam riwayat ‘Uqbah, “Memiliki tiga orang anak wanita, lalu ia bersabar dalam memberi mereka makan, minum, dan pakaian dari rezeki yang diberikan Allah, maka kelak mereka akan menjadi hijab bagi dirinya dari neraka pada hari kiamat.”
“Siapa saja,” catat Albani dalam Silsilah Shahihah manakala menulis ulang riwayat Ahmad, “Yang dikarunia tiga anak wanita atau tiga saudari kandung, atau bahkan dua anak wanita atau dua saudari kandung wanita; lalu ia bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan dan berbuat baik kepada mereka, melainkan ia akan dijamin masuk surga.”
“Siapa pun,” gores Albani dalam Silsilah Shahihah tatkala mencatat ulang riwayat Abu Ya’la dan al-Bukhari, “Yang menanggung beban hidup tiga anak wanita; mencukupi, menyayangi, dan mengasihi mereka, maka ia pasti berada di surga.”
“Tidaklah seseorang,” tegas ‘Aisyah dalam riwayat al-Baihaqi seperti yang tercantum dalam Silsilah Shahihah, “Yang mencukupi kebutuhan hidup tiga anak wanita atau tiga saudari kandung, juga memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya, melainkan ia akan terhindar dari api neraka.”
Dalam riwayat Abu Sa’id al-Khudri, “Melainkan ia akan masuk surga.”
“Sesiapa saja,” jelas Nabi dalam riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi, “Yang memiliki tiga anak wanita atau tiga saudari kandung wanita, atau bahkan dua anak wanita atau dua saudari kandung, lalu dia menemani perjalanan hidup mereka dengan sebaik-baiknya seraya bertakwa kepada Allah—dalam sebuah riwayat lain, ‘Lalu mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, sampai menikahkan mereka.’—maka baginya surga.”
Dalam riwayat Anas ibn Malik sebagaimana tercantum dalam Silsilah Shahihah, “Maka ia masuk surga bersama saya, seperti ini—seraya baginda Nabi mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.”
“Siapa pun,” tegas Nabi dalam riwayat Imam Muslim, “Yang mendapat cobaan karena dikaruniai anak-anak wanita, lalu ia memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya, maka kelak mereka akan menjadi hijab bagi dirinya dari api neraka.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar